* Apabila pembaca mendapatkan kesalahan mohon berkenan mengoreksi (terima kasih).

Minggu, 17 Februari 2008

1.3 Murakkab (Susunan Kalimat), Macam-macam dan I’rabnya (Bag.2 )

1.3 Murakkab (Susunan Kalimat), Macam-macam dan I’rabnya (Bag.2 )

3.4 Murakkab ’Athfy
Murakkab ’Athfy adalah murakkab yang disusun dari ma’thuf dan ma’thuf ilaih, dengan perantaraan huruf athaf diantara keduanya, contoh:

ينالُ التلميذُ والتلميذةُ الحمدَ والثَّناء، إذا ثابرا على الدرس والاجتهاد
Murid laki-laki dan murid perempuan menerima pujian dan sanjungan apabila keduanya selalu belajar dan bersungguh-sungguh.

Hukum lafazh setelah huruf athaf adalah mengikuti lafazh sebelumnya dalam i’rabnya.

3.5 Murakkab Mazjy
Murakkab mazjy adalah setiap dua kalimat yang keduanya disusun menjadi satu kalimat, seperti:
بعلبكْ وبيت لحمْ وحضْرموت وسيبويه وصباح مساء وشذر مذر

Apabila murakkab mazjy itu berupa alam, maka dii’rab dengan i’rab isim ghair munsharif, contoh:

بعلبكْ بلدةٌ طيبةُ الهواء
Ba’labak adalah negara yang udaranya sejuk.

سكنتُ بيت لحم
Aku tinggal di Baitulahmi (Betlehm).
سافرتُ إلى حضْرموْت
Aku pergi ke Hadhramaut.
Apabila keadaan juz keduanya itu lafazh "ويْه", maka dimabnikan kepada kasrah selamanya, contoh:
سيبويه عالمٌ كبيرٌ
Imam Sibawaih adalah seorang alim yang agung.

رأيتُ سيبويه عالماً كبيراً
Aku memandang Imam Sibawaih sebagai seorang alim yang agung.

قرأتُ كتاب سيبويه
Aku membaca kitab Imam Sibawaih.
Apabila keadaan murakkab mazjy itu bukan alam, kedua juznya dimabnikan kepada fatah, contoh:
زُرْني صباح مساء
Shabaha masaa (nama orang) mengunjungiku.

أنت جاري بيت بيت
Engkau, Baita baita (nama orang) tetanggaku.

3. 6 Murakkab ’Adady
Murakkab ’adady adalah bagian dari murakkab mazjy, yaitu setiap dua bilangan yang disusun dengan perantaraan huruf athaf yang ditakdirkan, yaitu bilangan dar أحد عشر sampai تسعة عشر . Dan dari الحادي عشر sampai الحادي عشر .
(Adapun bilangan واحد وعشرون sampai تسعة وتسعين tidak termasuk murakkab ’adady, karena huruf athafnya disebut, jadi termasuk murakkab ’athfy).
Harkat fatah pada kedua juz murakkab ’adady adalah wajib, baik keadaannya dirafa’kan, seperti:
جاء أحدَ عشر رجلاً
Telah datang sebelas laki-laki.
Atau dinashabkan, seperti:
{رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً} [يوسف: 4]
Aku melihat sebelas bintang.

Atau dijarkan, seperti:

أحسنتُ الى أحد عشر فقيراً

Aku berbuat baik kepada sebelas orang fakir.

Walaupun keadaan kedua juz ketika itu adalah mabni fatah, tetapi keadaan mahalnya dirafa’kan atau dinashabkan atau dijarkan, kecuali bilangan اثنيْ عشر , kalimat ini juz awalnya di’irab dengan i’rab mutsanna, yaitu rafa’nya dengan alif, seperti:

جاء اثنا عشر رجلاً
Telah datang dua belas laki-laki.
Nashabnya dengan ya, seperti:

أكرمتُ اثنتي عشرة فقيرةً باثني عشر درهماً
Aku memuliakan dua belas orang fakir (perempuan) dengan dua belas dirham.

Dan juz keduanya dimabnikan kepada fatah, dan tidak ada mahal baginya dalam i’rab, maka lafazh itu menempati tempat nun dari mutsanna.

Dan bilangan yang berwazan فاعل yang tersusun dari lafazh العشرة seperti:
الحادي عشر sampai التاسع عشر maka kedua juznya dimabnikan kepada fatah, seperti:

جاء الرابع عشر
Telah datang yang kelima belas.
رأيتُ الرابعة عشْرة
Aku melihat yang kelima belas.
مررتُ بالخامس عشر
Aku bertemu dengan yang kelima belas.
Kecuali apabila juz yang awalnya diakhiri dengan huruf ya, maka keadaan juz awal itu dimabnikan kepada sukun, seperti:
جاء الحادي عَشرَ والثاني عشرَ
Telah datang yang kesebelas dan yang kedua belas.
ورأيتُ الحاديَ عَشرَ والثانيَ عشرَ
Aku melihat yang kesebelas dan yang kedua belas.
ومررتُ بالحادي عَشرَ والثاني عشر
Aku bertemu dengan yang kesebelas dan yang kedua belas.



Hukum ’adad (hitungan) dan ma’dud (yang dihitung)
Jika keadaan ’adadnya satu atau dua maka hukumnya dimudzakkarkan beserta ma’dudnya mudzakkar, dan ’adadnya dimuannatskan jika ma’dudnya muannats.
Engkau berkata:
رجلٌ واحد، وامرأةٌ واحدة
Seorang laki-laki, dan seorang perempuan.

ورجلانِ اثنانِ، وامرأتان
Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan.

Lafazh أحدٌ sebagaimana واحدٍ , engkau berkata:

أحدُ الرجال، احدى النساءِ
Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Apabila ’adadnya dari tiga sampai sepuluh, wajib dimuannatskan beserta (yang dihitungnya) mudzakkar. Dan ’adad dimudzakkarkan beserta (yang dihitungnya) muannats, Engkau berkata:

ثلاثةُ رجالٍ وثلاثة أقلامٍ
Tiga laki-laki dan tiga pena.

ثلاث نساءٍ وثلاث أيدٍ
Tiga wanita dan tiga tangan.

Kecuali apabila ‘adanya العشرةُ (sepuluh) disusun, maka disesuaikan dengan ma’dud (yang dihitung), dimudzakkarkan beserta (yang dihitungnya) mudzakkar dan ‘adadnya dimuannatskan beserta (yang dihitungnya) muannats, Engkau berkata:

ثلاثة عشر رجلاً، وثَلاث عشْرة امرأةً
Tiga belas laki-laki dan tiga belas perempuan.

Apabila keadaan ‘adadnya berwazan فاعلٍ datang disesuaikan dengan ma’dud yang mufrad dan murakkab, engkau berkata:
البابُ الرابعُ، والبابُ الرابعَ عَشرَ
Bab yang keempat dan bab yang keempat belas.
الصفحة العاشرة، والصفحة التاسعةَ عشْرةَ
Halaman sepuluh dan halaman yang kesembilan belas.

Harkat huruf syin pada lafazh العشرةِ والعشر difatahkan beserta ma’dud yang mudzakkar, dan sukun beserta ma’dud yang muannats, engkau berkata:

عَشَرة رجال وأحد عشَرة رجلا
Sepuluh laki-laki dan sebelas laki-laki.

عشْر نساءٍ وإحدى عشْرة امرأةً
Sepuluh perempuan dan sebelas perempuan.

1 komentar:

Istiqomah FilKhoir mengatakan...

mohon maaf ada sedikit kekeliruan dam menerjemahkan
جاء الرابع عشر
disana tertulis : telah datang yang kelima belas
seharusnya : yang keempat belas.

syukron wa jazaakumulloh